HIJAB SIMBOL KEMULIAAN WANITA.
Abuya Sayyid
Muhammad Alawi dalam “Adabul Islam fi Nidzhamil Usrah” menyatakan bahwa anugerah
terbesar yang dipersembahkan Islam kepada para wanita adalah perintah kepada
mereka untuk mengenakan hijab syar’i (Pakaian yang menutupi seluruh aurat
wanita). Hijab akan melindungi kehormatan mereka sebagai wanita, menjauhkan
mereka dari tindak pelecehan seksual dan menempatkan mereka dalam benteng
kesucian tertinggi. Inilah beberapa faktor positif dibalik perintah Islam
kepada mereka untuk mengenakan hijab syar’i. Hijab sama sekali tidak memiliki
korelasi dengan kemunduran suatu bangsa. Hijab tidak membuat mereka mengidap
penyakit. Tidak pernah terjadi pasukan muslim kalah perang dari musuh-musuh
mereka akibat para wanita mereka mengenakan hijab. Hijab juga tidak mematikan kreativitas akal
atau daya nalar. Hijab tidak menghentikan sumber pendapatan dan ekonomi. Justru hijab adalah perhiasan yang memberikan
rasa malu dan wibawa kepada mereka. Kalau hijab dianggap menjadi faktor
kemunduran maka kemunduran tersebut adalah kemunduran positif yaitu kemunduran
dari peradaban orang-orang bodoh dan kemerosotan moral orang-orang fasiq.
Etika yang
diajarkan Islam kepada para wanita ini diakui oleh sebagian sarjana barat yang
memiliki pandangan obyektif. Mereka mengatakan bahwa dalam kacamata Islam hijab
bukan berarti merenggut kepercayaan dari
tangan mereka, namun hijab adalah sarana untuk memelihara kehormatan dan
kesucian mereka.
Demikianlah
tujuan Islam menetapkan aturan hijab kepada wanita. Bukan sebagaimana anggapan
kalangan tertentu yang memandang hijab sebagai bukti ketidaksetaraan laki-laki
dan wanita, penghinaan terhadap wanita atau pengekangan terhadap kebebasan
mereka.
Justru hijab,
menurut Al Buthy dalam “Al Mar’ah baina Thughyanin Nidhzam Algharbiy wa lathaifit
tasyri’ Arrabbani”, adalah faktor yang membuat wanita bisa bersama-sama kaum
lelaki berpartisipasi dalam segala sektor kehidupan. Karena dengan mengenakan
hijab wanita akan dipandang oleh laki-laki sebagai manusia yang memilki
kapasitas bukan dipandang sebagai lawan jenis yang bisa dieksploitasi sisi
kewanitaannya. Berbeda jika wanita tampil tanpa mengenakan hijab dengan
menonjolkan daya tarik kewanitaannya maka akan sulit bagi para lelaki untuk tidak
tergoda mengeksploitasi sisi kewanitaanya. Hal ini lah yang akan menghambat
perempuan dalam mengembangkan sumber daya yang mereka miliki semaksimal
mungkin.
Hijab memang
tidak secara otomatis membuat wanita berada dalam level moralitas yang tinggi.
Dengan bukti banyak wanita berhijab yang tidak memiliki budi pekerti luhur.
Karena untuk mencapai taraf ini dibutuhkan pendidikan etika yang berkelanjutan.
Sesungguhnya hijab disyari’atkan untuk menjauhkan wanita dari pandangan
laki-laki yang bisa saja tergoda melakukan kejahatan ketika memandang wanita
dalam kondisi tidak berhijab. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al Ahzab
: 39 Allah yang artinya :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ
يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ
وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (٥٩)
59.
Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan
isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[1232]
ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah
untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.
Dalam ayat ini
Allah menegaskan bahwa hijab disyari’atkan untuk menyembunyikan daya tarik
seksual wanita dari pandangan laki-laki sehingga mereka aman dari gangguan para
lelaki. Dengan hijab tersebut para lelaki akan menganggap mereka sebagai
partner dalam aktivitas pengabdian kepada masyarakat sepanjang sektor yang mempertemukan lelaki dan
wanita adalah sektor kemasyarakatan yang membutuhkan partisipasi seluruh warga
dalam membangun masyarakat dan pilar-pilar peradabannya.
Para lelaki yang
mengecam hijab syar’I dan mendorong wanita bebas mengenakan pakaian terbuka
sesuai seleranya tanpa rasa malu
sesungguhnya bukan sedang berjuang untuk memberikan kemaslahatan kepada
masyarakat, membebaskan dari belenggu keterbelakangan atau mendorong menjadi
bangsa yang maju. Mereka sesungguhnya ingin memuaskan egoisme mereka
mengeksploitasi wanita untuk kepentingan mereka sendiri bukan untuk kebaikan
masyarakat atau wanita itu sendiri.
Demikianlah pandangan-pandangan
Abuya dan Al Buthy menyangkut hijab sebagai salah satu upaya membangun
masyarakat muslim yang bersih dan bermoral yang mustahil bisa terealisir tanpa
membentuk para wanita muslimah menjadi wanita shalihah yang cinta Allah dan
Rasulullah dan yang tidak mudah terseret gaya hidup dan pola pikir para wanita
yang telah menjadi agen pengembangan tradisi jahiliyyah.


